KISAH LADY GODIVA

>> 6.06.2009

Ini kisah yg paling exotic bagi org2 yg suka ngintipin cewek telanjang alias Peeping Tom....

pada abad kesebelas di Inggris, tepatnya di sebuah daerah bernama Coventry, hiduplah seorang bangsawati Anglo-Saxon bernama Lady Godiva (1040-1080). Godiva, versi lainnya adalah Godgifu atau Godgyfu, berarti berkah dari Tuhan. Lady Godiva adalah istri dari Leofric, Earl of Mercia, salah satu tuan tanah yang berkuasa memerintah Inggris di bawah Raja Denmark, Canute.

Salah satu tugas Leofric adalah mengurus masalah finansial dan pembangunan kota Coventry. Untuk mengembangkan kotanya, tentu saja dibutuhkan dana dan oleh sebab itu Leofric menetapkan berbagai pajak untuk orang-orang Coventry (termasuk konon pajak yang konyol seperti denda karena kuda seseorang buang kotoran sembarangan dan pajak atas lukisan). Lady Godiva antara kasihan dengan penderitaan rakyat Coventry dan jengkel karena pajak membuat mereka tidak dapat mengembangkan kehidupan yang berkesenian, meminta pada Leofric agar pajak diturunkan. Leofric setuju dengan syarat : istrinya harus menunggang kuda di tengah hari pasaran di Coventry tanpa busana.


Lady Godiva setuju dan pada saat yang telah ditentukan (Kamis bulan Agustus) dengan kuda putihnya dia berkendara siang hari bolong di Coventry, bertelanjang penuh. Setelahnya, Leofric meniadakan seluruh pajak untuk Coventry kecuali pajak kuda.

Kemudian, pada sekitar abad ketujuh belas, muncul tambahan pada legenda ini. Dikisahkan, semua penduduk Coventry sudah diberi tahu bahwa sang Lady akan melintas dan sebagai penghormatan mereka masuk ke rumah dan menutup jendela. Semua, kecuali seorang penjahit yang bernama Tom. Tom membuat lubang untuk mengintip ketika Lady Godiva lewat (digambarkan tubuhnya tertutup oleh rambut pirang panjangnya) dan seketika jadi buta.

Dari situlah istilah peeping tom bagi para tukang intip muncul, beserta istilah sindrom Lady Godiva bagi orang yang suka memamerkan anggota tubuh telanjangnya pada orang lain.
NOTE : Kisah si Tom yg jadi buta konon dibuat oleh pemuka katholik pada masa itu untuk menakut2i org yg suka melihat perempuan telanjang.


kisah ini udah beberapa kali pernah difilmkan
dari dulu gue pengen nyari filmnya.dulu pernah dapet hitam putih tapi ilang gk tau kemana waktu masih kaset betamax....yg menariknya difilmnya itu, pas adegan waktu lady godiva akan keliling naik kuda sambil bugil..seluruh kota jadi sepi...persis spt dilukisan itu. dia dituntun pembantunya. mungkin semua penduduk jaman dulu punya rasa malu ngeliat org yg paling dihormati mereka bugil kali ya....kecuali si tom itu satu2nya org yg menyaksikan kejadian itu. dia lalu bercerita kepada teman2nya tentang apa yg dilihatnya.



Read More......

Kucing Bersayap?

Sejarah Dan Penyebab Kucing Bersayap

Kucing Bersayap Laporan terbaru Setidaknya ada ratusan catatan sejarah tentang kucing bersayap ini. Berita paling baru tentang kucing bersayap yang berasal dari China juga pernah dimuat di website kucingkita.com ini.

Pada tahun 2004, di Bukreyevk (sekitar Kursk), Russia bagian tengah, seekor kucing bersayap dibunuh oleh penduduk setempat yang percaya takhayul. Menurut harian lokal (Komsomolskaya Pravda), kucing tersebut ditenggelamkan karena dianggap sebagai utusan iblis.

Pada tahun 1998, seekor kucing hitam bersayap ditemukan di Northwood, Middlesex. Sayapnya terletak sekitar 2-3 inci dari tulang belikat dengan lebar sekitar 4 inci, tebal 1 inci dan panjang 8 inci (sekitar 20 cm). Sepasang sayap tersebut telihat mengepak ketika kucing berlari.

Catatan Sejarah
Sekitar 138 kasus kucing bersayap pernah tercatat dalam sejarah. Sayangnya hanya 28 kasus yang terdokumentasi.


Laporan awal mengenai kucing bersayap yang pernah tercatat, terjadi bulan juni 1842, dilaporkan oleh Henry David Thoreau di daerah pertanian sekitar Lincoln.

1868 (India). Penduduk lokal menyebutnya “pankha billi” (kucing bersayap). Kucing tersebut ditembak oleh Mr. Alexander Gibson kemudian kulitnya yang dikeringkan tersebut diukur mempunyai panjang 44 cm dan dipamerkan di pertemuan komunitas Bombay.

Pada tanggal 26 Juni 1897 seekor kucing bersayap dilaporkan ditemukan di Matlock, Derbyshire. Harian setempat menggambarkan kucing tersebut sebagai kucing jantan besar berwarna tortoishell (tortie). Sepasang sayapnya muncul dari kedua sisi di daerah tulang rusuk ke empat. Jika laporan tersebut benar, berarti kucing tersebut termasuk “mahluk langka”. Langka karena sayapnya, juga karena jarangnya kucing warna tortoishell (tortie) yang berjenis kelamin jantan.

Pada tahun 1899, majalah Strand, London melaporkan adanya kucing bersayap milik seorang wanita yang tinggal di daerah Wiveliscombe, Somerset, England. Kucing tersebut terlihat normal kecuali ada sepasang sayap yang menonjol.

Kucing-kucing bersayap ini juga dilaporkan pada tahun 1933, 1934 di Inggris, 1936 di skotlandia, 1939 di Inggris, 1942 di Middlesex, 1949 di swedia, 1950 di Nottinghamshire dan di Madrid (dikenal sebagai “angolina”), 1959 di Virginia Barat, 1966 di Kanada, 1970 di Conecticut dan 1975 di manchester.

Pada beberapa kejadian, dilaporkan sayap tersebut tumbuh pada musim dingin dan lepas/tanggal pada musim semi.

Penyebab Kucing bersayap
Dari berbagai laporan mengenai kucing bersayap, diperkirakan sayap pada kucing tersebut bisa disebabkan oleh beberapa hal :

1. Bulu rontok yang menggumpal. Pada beberapa laporan menyatakan, saat musim dingin sayap muncul pada kucing yang berbulu panjang, kemudian sayap kucing tersebut lepas pada musim semi. Sebagian besar bentuk yang menyerupai sayap tersebut adalah bulu rontok yang menggumpal (gimbal). Sebagian besar Laporan kucing bersayap sekitar tahun 1900-an diduga diakibatkan “bulu gimbal” ini. Pada saat itu kebiasaan grooming kucing berbulu panjang belum ada dan peralatan grooming belum secanggih saat ini.


Contoh "sayap" yang terbentuk dari bulu gimbal

2. Cacat lahir. Beberapa kasus kucing bersayap yang tercatat dalam sejarah diduga merupakan hasil dari cacat lahir ini. Satu dokumentasi menunjukkan adanya kembar siam (conjoined twin) dengan kaki kembaran yang satu lagi muncul di daerah punggung.

Contoh "sayap" yang terbentuk dari cacat lahir kembar siam (conjoined cat)

3. Feline Cutaneous Asthenia (FCA) adalah suatu penyakit keturunan yang menyebabkan kulit menjadi sangat elastis dan mudah robek/terluka. Elastisitas kulit yang belebihan ini juga dapat terjadi pada anjing dan manusia. Sejarah mencatat Jim Morris sang “Manusia Karet” dari India yang dapat menarik kulit sampai 44 cm dari tubuhnya. Kucing dengan FCA mempunyai kulit sensitif yang mudah luka dan robek. Menurut beberapa orang, kemungkinan besar “sayap” yang muncul di daerah punggung kucing adalah sobekan/luka di kulit yang masih tertutup bulu.


Feline Cutaneous Asthenia, Perhatikan "sayap" yang terbentuk di daerah sekitar panggul

Sumber: www.kucingkita.com





Read More......

Legenda Danau Toba

Di rangkum dari Hasil cerita orang tertua setempat.

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani yatim piatu di bagian utara pulau Sumatra. Daerah tersebut sangatlah kering. Pemuda itu hidup dari bertani dan mendurung ikan, hingga pada suatu hari ia mendurung,sudah setengah hari ia melakukan pekerjaan itu namun tak satu pun ikan di dapatnya.

Maka dia pun bergegas pulang karena hari pun mulai larut malam, namun ketika ia hendak pulang ia melihat seekor Ikan yang besar dan indah , warnanya kuning emas. Ia pun menangkap ikan itu dan dengan segera ia membawa pulang ikan tersebut, sesampainya di rumah karena sangat lapar maka ia hendak memasak Ikan itu tetapi karena indahnya ikan itu.

Dia pun mengurungkan niatnya untuk memasak ikan itu, ia lebih memilih untuk memeliharanya, lalu ia menaruhnya di sebuah wadah yang besar dan memberi makannya, keesokan harinya seperti biasanya ia pergi bertani ke ladangnya, dan hingga tengah hari Ia pun pulang kerumah, dengan tujuan hendak makan siang, tetapi alangkah terkejutnya dirinya, ketika melihat rumahnya, didalam rumah nya telah tersedia masakan yang siap untuk di makan, ia terheran heran, ia pun teringat pada ikannya karena takut di curi orang, dengan bergegas ia lari ke belakang, melihat ikan yang di pancingnya semalam. Ternyata ikan tersebut masih berada di tempatnya, lama ia berpikir siapa yang melakukan semua itu, tetapi karena perutnya sudah lapar , akhirnya ia pun menyantap dengan lahapnya masakan tersebut.

Dan kejadian ini pun terus berulang ulang, setiap ia pulang makan, masakan tersebut telah terhidang di rumahnya. Hingga pemuda tersebut mempunyai siasat untuk mengintip siapa yang melakukan semua itu, keesokan harinya dia pun mulai menjalankan siasatnya, Ia pun mulai bersembunyi diantara pepohonan dekat rumahnya. Lama ia menunggu, namun asap di dapur rumahnya belum juga terlihat, dan ia pun berniat untuk pulang karena telah bosan lama menunggu, namun begitu Ia akan keluar dari persembunyiannya, Ia mulai melihat asap di dapur rumahnya, dengan perlahan lahan ia berjalan menuju kebelakang rumah nya untuk melihat siapa yang melakukan semua itu.

Alangkah terkejutnya dirinya ketika ia melihat siapa yang melakukan semua itu, Dia melihat seorang Wanita yang sangat cantik dan ayu berambut panjang , dengan perlahan lahan Ia memasuki rumahnya, dan menangkap wanita tersebut. Lalu Ia berkata,

“hai .. wanita, siap kah engkau, dan dari mana asalmu?”

Wanita itu tertunduk diam, dan mulai meneteskan air mata, lalu pemuda itu pun melihat ikannya tak lagi berada di dalam wadah. Ia pun bertanya pada wanita itu,

“hai wanita kemanakah ikan yang di dalam wadah ini?”

Wanita itu pun semakin menangis tersedu sedu, namun pemuda tsb terus memaksa dan akhirnya wanita itu pun berkata

“Aku adalah ikan yang kau tangkap kemarin” .

Pemuda itu pun terkejut, namun karena pemuda itu merasa telah menyakiti hati wanita itu , maka pemuda tsb berkata,

“Hai wanita maukah engkau menjadi Istri ku..??”,

Wanita tsb terkejut , dia hanya diam & tertunduk ,lalu pemuda tsb berkata

“Mengapakah engkau diam ..!!” .

Lalu wanita tsb pun berkata , “ aku mau menjadi istri mu .. tetapi dengan satu syarat, apakah syarat itu balas pemuda itu dengan cepat bertanya, wanita itu berkata,

“Kelak jika anak kita lahir dan tumbuh, janganlah pernah engkau katakan bahwa dirinya adalah anakni Dekke(anaknya ikan)”.

Pemuda itu pun menyetujui persyaratan tsb dan bersumpah tidak akan mengatakannya, Dan menikahlah mereka.

Hingga mereka mempunyai anak yang berusia 6 tahunan , anak itu sangatlah bandal (jugul) dan tak pernah mendengar jika di nasehati, Lalu suatu hari sang ibu menyuruh anaknya untuk mengantar nasi ke ladang ketempat ayahnya, anak itu pun pergi mengantar nasi kepada ayahnya, namun di tengah perjalanan ia terasa lapar, Ia pun membuka makanan yang di bungkus untuk ayahnya, dan memakan makanan itu. Setelah selesai memakannya, kemudian ia pun membungkusnya kembali dan melanjutkan perjalanannya ketempat sang ayah, sesampainya di tempat sang ayah Ia memberikan bungkusan tersebut kepada sangayah, dengan sangat senang ayahnya menerimanya, lalu ayahnya pun duduk dan segera membuka bungkusan nasi yang di titipkan istrinya kepada anaknya, alangkah terkejutnya ayahnya melihat isi bungkusan tersebut. Yang ada hanya tinggal tulang ikan saja,sang ayah pun bertanya kepada anaknya

“hai anakku., mengapa isi bungkusan ini hanya tulang ikan belaka”, anaknya nya pun menjawab, “ di perjalanan tadi perutku terasa lapar jadi aku memakannya”, sang ayah pun emosi, dengan kuat ia menampar pipi anaknya sambil berkata

“Botul maho anakni dekke (betul lah engkau anaknya ikan),”

Sang anak pun menangis dan berlari pulang kerumah.,sesampainya dirumah anaknya pun menanyakan apa yang di katakan ayahnya

“mak .. olo do na di dokkon amangi, botul do au anakni dekke (mak .benarnya yang dikatakan ayah itu , benarnya aku ini anaknya ikan)” mendengar perkataan anaknya ibunya pun terkejut, sambil meneteskan air mata dan berkata di dalam hati.

“Suami ku telah melanggar sumpahnya,dan sekarang aku harus kembali ke alamku,”

Maka , langit pun mulai gelap , petir pun menyambar nyambar, Hujan badai pun mulai turun dengan derasnya, sang anak dan ibu raib, dari bekas telapak kaki mereka muncul mata air yang mengeluarkan air sederas derasnya, hingga daerah tersebut terbentuk sebuah Danau, yang Diberi nama Danau TUBA yang berarti danau tak tau belas kasih ,tetapi karena orang batak susah mengatakan TUBA, maka danau tersebut terbiasa disebut dengan DANAU TOBA..

Sekian terima kasih,

NB : Menurut Warga setempat, sang ibu kembali berubah menjadi Ikan yang sangat besar(penunggu danau), dan akan meminta tumbal setiap setahun sekali, dan sampai sekarang belum ada yang bisa mengukur dalamnya Danau tersebut .Karena telah banyak Turis - turis yang Coba menyelam ke danau namun tak pernah kembali, Dalam danau yang ada di buku hanyalah perkiraan saja bukan sebenarnya -nya

dikutip dari berbagai sumber



Read More......

Chairil Anwar Legenda Sastra yang Disalahpahami


Chairil Anwar adalah legenda sastra yang hidup di batin masyarakat Indonesia. Ia menjadi ilham bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya.

Namun siapa sangka, penyair yang memelopori pembebasan bahasa Indonesia dari tatanan lama ini adalah juga seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi?

Berikut ini tulisan tentang Chairi Anwar, yang sebagian besar bahannya dicuplik dari buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arief Budiman, ditambah beberapa referensi lain serta sejumlah wawancara.

"Di Jalan Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku, yang sekarang jadi kantor Astra. Namanya toko buku Kolf dan van Dorp. Koleksinya luar biasa banyak.

Saya dan Chairil suka mencuri buku di situ," begitu Asrul Sani pernah bercerita.

"Suatu kali kami melihat buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra. `Wah, itu buku mutlak harus dibaca,' kata Chairil pada saya. `Kau perhatikan orang itu, aku mau mengantongi Nietzsche ini.' Chairil memakai celana komprang dengan dua saku lebar, cukup besar untuk menelan buku itu."

Buku-buku filsafat, termasuk buku Nietzsche tadi, diletakkan di antara
buku-buku agama. Kebetulan buku Nietzsche ukuran dan warna sampulnya yang hitam persis betul dengan kitab Injil. "Sementara Chairil
mengantongi buku, saya memperhatikan pelayan toko," kata Asrul. "Hati saya deg-degan setengah mati.


Setelah buku berpindah tempat, kami lantas keluar dari toko dengan
tenang. Tapi sampai di luar tiba-tiba Chairil terkejut, `Kok ini? Wah, salah
ambil aku!' sambil tangannya terus membolak-balik buku. Rupanya Chairil salah mengambil Injil. Kami kecewa sekali."

Chairil Anwar memang seorang "penggila" buku, yang dengan rakus
melahap karya-karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nitsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, J. Slauerhoff, dan banyak lagi.

Tapi dia adalah penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, tidak
punya pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, penyakitan, dan tingkah
lakunya menjengkelkan. Alhasil, lengkaplah "ciri-ciri" seniman pada
dirinya.

Namun, dia juga contoh yang baik tentang totalitas berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Jika Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai kegiatan sampingan, di samping tugas keseharian mereka sebagai redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau lainnya, ia semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi.

Tak Terurus. Nama Chairil mulai dikenal di kalangan seniman pada tahun
1943. H.B. Jassin punya cerita. "Suatu hari di tahun 1943," tuturnya,
"Chairil datang ke redaksi Pandji Pustaka; seorang muda kurus pucat tidak terurus kelihatannya.

Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Pandji Pustaka. Tapi didapatnya keterangan bahwa sajak-sajaknya tidak mungkin dimuat. Kata pemimpin majalah itu, `Susunan Dunia Baru' (sajak Chairil) tidak ada harganya. Sajak-sajak individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu mem-Barat."

Sejak itu sang penyair sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi.

Gaya bersajak dan elan vital dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).

Bukan secara kebetulan agaknya jika sajak-sajak Chairil memiliki nuansa individualistis yang kental. Pergumulan total Chairil dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis.

Semacam tertuntun pada sebuah kredo bahwa di dalam kesenian, berfilsafat menjadi keniscayaan yang menusuk. Terutama karena berkesenian mengharuskan sang seniman berhadapan dengan problem-problem tentang ketuhanan, kebebasan, dan apa saja.

Salah Kaprah. Buat kita sekarang, sosok Chairil sudah lekat dengan citra
kepenyairan Indonesia. Sejumlah larik puisi dari penyair kita ini telah menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara yang hidup di kalangan
masyarakat:

"Aku ini binatang jalang", "Hidup hanya menunda kekalahan",
"Aku mau hidup seribu tahun lagi", dan masih banyak lagi. Atau bertanyalah pada siswa SLTP dan SLTA siapa penyair kondang Indonesia, niscaya mereka akan menyebut namanya, lengkap dengan beberapa judul syairnya.

Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, ada yang salah dalam persepsi kita
mengenai tokoh yang satu ini. Ada yang salah kaprah. Sebagai ilustrasi, sajak "Aku" lebih sering dipahami banyak orang sebagai sajak pemberontakan terhadap penjajahan. Padahal tidak. Kata Asrul Sani, sajak itu sebenarnya tidak lebih dari "teriakan putus asa dan rasa getir", termasuk penolakan terhadap sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu ayahnya.

Sajak "Diponegoro" juga sering dikira sajak perjuangan.
Padahal, seperti pernah diulas Arief Budiman, sajak itu adalah cerminan dari ekspresi kekaguman Chairil pada semangat hidup Pangeran Diponegoro, di saat jiwanya amat diresahkan dengan kematian dan absurditas.

Ia menulis puisi pertamanya, "Nisan", pada Oktober 1942, ketika ia berusia 20 tahun, ketika teknik persajakan belum dikuasainya benar. Para
pengamat sastra menganggap sajak ini sebagai sajak tertuanya. Padahal, menurut H.B. Jassin, sebelum "Nisan" Chairil sudah lebih dulu membuat sajak-sajak corak Pujangga Baru, tapi karena tidak memuaskannya lalu dia buang.

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta.

Sajak "Nisan" ini, yang didedikasikan untuk neneknya yang baru meninggal, merupakan renungan Chairil tentang kematian, yang di matanya teramat misterius, namun tak terhindarkan oleh siapa pun.

Renungannya ini lalu menghantarkan ia pada pertanyan eksistensial: "Bila manusia mati, lantas apa gunanya segala usaha yang dilakukan dalam hidup ini?"

Pertanyaan filosofis itu terus mengejarnya, sementara kehidupan sendiri
tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan. Maka bukan hal yang aneh, di saat batin kemanusiaannya begitu merindukan semangat menghadapi hidup yang absurd dengan gagah berani, tiba-tiba Chairil mendapati sosok legendaris Pangeran Diponegoro sebagai perwujudan yang konkret dari kegairahannya mempertahankan hidup.

Inilah agaknya yang lalu mengilhaminya menulis sajak "Diponegoro", pada Februari 1943. Meski sama-sama berbicara tentang kematian, sajak-sajak yang ditulis Chairil menjelang akhir hayatnya lebih sublim dan intens.

Di samping teknik persajakan telah dikuasainya benar sehingga sajak-sajaknya terasa jernih, penghayatannya terhadap kehidupan (dan kematian) yang menjadi subjek puisi-puisinya juga telah mencapai klimaks kematangan sebagai seorang penyair.

Sajak pertama yang ditulis Chairil pada 1949 (tahun kematiannya)
adalah "Chairil Muda, Mirat Muda", dengan tambahan judul kecil
"Di Pegunungan 1943".

Sajak ini merupakan kenangan Chairil terhadap saat-saat yang paling
membahagiakan dalam hidupnya--sebuah perasaan yang wajar timbul pada orang-orang yang menyongsong kematian. Di akhir sajak tersebut ia
sempat menulis kata mati. Namun berbeda dengan sajak-sajaknya yang ditulis pada 1942, di mana kematian dipersoalkan dengan keterlibatan dan perhatian yang penuh, di sajak ini kematian diucapkannya dengan cara yang ringan saja.

Agaknya kematian bukan lagi sesuatu yang menjadi objek obsesinya, melainkan sebagai kenyataan yang sederhana, sama sederhananya dengan udara di muka bumi.

Dalam sajaknya "Yang Terampas dan yang Putus", juga ditulis pada 1949, Chairil malah secara jelas menulis kesiapannya untuk menghadapi
kematian. Ia tiba-tiba menyadari bahwa impuls-impuls kehidupan tidak pernah sepenuhnya diam.

Demikian pula dalam sajak "Derai-Derai Cemara", yang ia tulis sesudahnya. Dalam sajak yang ia tulis setelah percakapan yang panjang dengan dua sahabatnya, Rivai Apin dan Asrul Sani, Chairil kembali menegaskan bahwa kehidupan adalah sebingkai misteri yang tidak bisa kita temui artinya, tapi pada saat yang sama kita memiliki impuls untuk mempertahankannya.

Kita hidup, menurut Chairil, untuk sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya. Dan barangkali satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah karena kita sedang mencari maknanya.

Namun misteri tetaplah sebuah misteri, ia tidak pernah akan bisa
terpecahkan. Karenanya mencari makna kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia, meski harus terus dilakukan. Maka bagi Chairil, "hidup hanya
menunda kekalahan/ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah".

Penyair Terbesar. Chairil memiliki simpati yang sangat besar terhadap
upaya meraih kemerdekaan manusia, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Pada 1948, sebagai bukti perhatiannya pada situasi sosial-politik waktu itu, ia menulis sajak
"Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The Young Dead Soldiers", karya Archibald MacLeish.

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Syahrir.

Pada tahun yang sama, ia menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus
mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Belakangan, sajak Chairil yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak dipahami orang sebagai sajak perjuangan. Padahal, sajak-sajak ini adalah
jenis sajak individu, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
perjuangan kemerdekaan karena ditulis pada 1943. Namun dalam sajak "Aku" misalnya, di mana Chairil mengintroduksi dirinya sebagai "Aku binatang jalang", ia bisa menjelmakan kata hati rakyat Indonesia yang ingin bebas.

Dalam analisis Agus R. Sardjono, penyair terkemuka Bandung, sajak-sajak seperti "Krawang-Bekasi", "Persetujuan dengan Bung
Karno", "Aku", dan "Diponegoro" inilah yang justru di kemudian hari membuat Chairil Anwar menjadi legenda dalam dunia kepenyairan Indonesia.

Hal itu dimungkinkan karena sajak-sajak ini bersifat sastra mimbar, untuk menyebut jenis sajak-sajak yang bersifat sosiologis (yang berpretensi untuk menjawab atau menanggapi fakta-fakta sosial), dan biasanya dibaca dengan suara keras atau menyeru-nyeru, serta
dengan tangan terkepal.

Masih menurut Agus, nama Chairil mungkin tidak akan begitu populer seperti sekarang bila dia hanya menciptakan sajak yang berjenis sastra kamar, sajak-sajak yang kontemplatif dan personal. Betapapun tingginya mutu sajak "Derai-Derai Cemara", "Senja di Pelabuhan Kecil", atau "Yang terampas dan yang Putus" secara kesusastraan, namun sajak-sajak demikian sama sekali tidak memiliki peluang untuk diapresiasi secara massal.

Namun, dengan segala ketidaksempurnaannya, keberhasilan terbesar
Chairil bagi dunia persajakan Indonesia khususnya, dan bahasa Indonesia
pada umumnya, adalah kepeloporannya untuk membebaskan bahasa Indonesia dari aturan-aturan lama (ejaan van Ophusyen) yang waktu itu cukup mengekang, menjadi bahasa yang membuka kemungkinan-kemungkinan sebagai alat pernyataan yang sempurna.

Kebebasan bahasa itu teramat penting. Terbukti Malasyia, negara yang
menggunakan bahasa Melayu, yang serumpun dengan bahasa Indonesia (tapi tidak pernah memiliki penyair sekaliber Chairil) dalam hal bahasa jauh tertinggal dari bangsa kita. Kebebasan bahasa itu adalah prestasi besar bangsa Indonesia.

Dengan itu kita dapat mengutarakan apa saja langsung dari lubuk hati
kita. Dan, seperti diamini banyak sastrawan kita, berkah itu adalah warisan Chairil Anwar, penyair terbesar yang pernah kita miliki.

Mengembara di Negeri Asing
Chairil Anwar tampaknya memang ditakdirkan untuk menjadi penyair yang disalahpahami. Tapi ia terbilang beruntung karena ia disalahpahami ke arah yang positif. Begitupun dalam hal religiusitas. Tidak sedikit orang yang menjulukinya penyair religius. Ini, antara lain, gara-gara sajak "Doa",
yang memang amat religius.

Tak jarang, dalam peringatan hari-hari besar agama Islam (juga Kristen), sajak tersebut dibaca dan memperoleh apresiasi yang luas. Benarkah ia penyair religius? Menurut penuturan Ida Rosihan Anwar (istri wartawan kawakan Rosihan Anwar yang sangat dekat dengan Chairil) dalam
kesehariannya Chairil tidak pernah memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama. Ia tidak pernah tampak salat, berpuasa di bulan Ramadan, atau bahkan ikut bergembira pada Idul Fitri. Jadi, ia bukan muslim yang baik.

Namun, kalau kita mengacu pada kriteria filosof Paul Tillich tentang siapa
yang disebut religius, (yaitu mereka yang secara serius mencoba mengerti hidup ini secara lebih jauh dari batas-batas yang lahiriah saja), Chairil
termasuk kelompok ini.

Konklusi ini semata-mata bersandar pada penyerahan total Chairil untuk
menjawab pertanyaan "apa tujuan hidup saya", dalam sepanjang masa
hidupnya.

Dan karena agama bagi banyak orang di dunia ini dianggap sebagai
jawaban pertanyaan "apa tujuan hidup saya?", Chairil tidak luput
membicarakan agama dalam beberapa sajaknya. Sajak "Di Masjid", yang
ditulisnya pada 29 Mei 1943, adalah sajak pertama mengenai hal ini.

Dalam sajaknya ini ia menegaskan sikapnya yang tidak mau terikat
apa pun juga, serta bersedia menerima segala bentuk penderitaan sebagai akibat pilihannya. Dia menolak untuk menyerah kepada agama, meskipun dia mengakui juga, agama mempunyai daya tarik yang sangat kuat sehingga sulit untuk melawannya: "Kuseru saja Dia/sehingga datang juga/Kamipun bermuka-muka/seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada/Segala daya memadamkannya/Ini ruang/gelanggang kami berperang/Binasa membinasa/satu menista lain gila.

Sajaknya yang kedua tentang agama ditulis lima bulan kemudian, berjudul
"Isa". Dalam sajak ini, selain terpesona, Chairil juga tersindir dengan pengorbanan dan penderitaan yang dialami Nabi Isa untuk menyelamatkan umat manusia.

Ia merasa "minder" lantaran sikap hidupnya yang hanya memikirkan
kemerdekaan diri sendiri, dan tidak peduli pada orang lain. Ia seperti dihadapkan pada pertanyaan, "Apakah sebuah pengorbanan ada artinya?"

Pertanyaan itu terus mengganggu hingga keesokan harinya dia menyerah
dan menulis sajak "Doa" sebagai ekspresi penyerahdiriannya kepada Tuhan. Ia berseru: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut nama-Mu/Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/caya-Mu panas suci/tinggal kerdip lilin di malam sunyi/Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/ Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/di pintu-Mu mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.

Dalam sajak ini Chairil memang tidak menjelaskan apa alasan ia "menyerah", namun yang pasti ia merasa hilang bentuk dan remuk ketika dia berjalan tanpa Tuhan.

Apakah dengan sajak ini Chairil telah "menemukan kembali" Tuhan?
Jawaban sementara: "ya". Agaknya bila Chairil tiba pada suatu titik kehidupan di mana dia mengambil suatu sikap secara lebih utuh, maka perasaan tenang datang meneduhinya.

Pada Februari 1947, dalam suasana yang sudah berbeda, Chairil
kembali menulis sajak tentang agama, yang berjudul "Sorga". Di sini,
dengan semangat eksistensialismenya yang kental, ia menggugat surga beserta gambarannya yang dijanjikan agama. Selanjutnya Chairil lebih memilih menolak agama karena agama memintanya untuk mengorbankan apa yang nyata sekarang, untuk digantikan sesuatu pada masa datang yang baginya belum pasti.

Maka bisa dipastikan, sesudah sikapnya ini Chairil kembali menemukan
dirinya kesepian. Namun, perasaan itu tampaknya sudah dia harapkan
dan dia hadapi dengan tenang. Ia kembali memilih menjadi pengembara selama hidupnya.

Meskipun, konon menurut kesaksian H.B. Jassin, menjelang mengembuskan nafasnya yang terakhir, Chairil ternyata tetap tidak lupa menyebut nama Tuhan.

Di sela-sela panas badannya yang tinggi sebelum kematiannya, ia mengucap, Tuhanku, Tuhanku....


Gadis-Gadis Pun Memujanya
Teman dekat Chairil Anwar semasa kecil, Sjamsulridwan, pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia, edisi Maret-April 1966. Katanya, salah satu sikap Chairil yang menonjol sejak kecil adalah sifatnya yang pantang kalah.

"Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, dan boleh dikatakan tidak pernah diam."

Chairil dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1922.
Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh (Sumatera Barat). Dia menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang (Sumatera Barat) dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir (tokoh PSI).

Menurut Sjamsulridwan, meski cukup terpandang dan disegani masyarakat sekitarnya, kehidupan kedua orangtua Chairil senantiasa ribut. Mereka sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan sama-sama tidak mau mengalah.

Hanya dalam satu hal mereka sama: dua-duanya sangat memanjakan Chairil. Segala keinginannya: mainan-mainan terbaru dan terbaik. Mereka pun selalu membenarkan sikap Chairil. Kalau ia berkelahi, ayahnya senantiasa membela. Bahkan kalau perlu ikut berkelahi.

Di luar rumah, Chairil tumbuh menjadi pemuda yang lincah dan penuh
percaya diri. Di samping karena kedudukan ayahnya, otak yang tajam
dan cerdas serta sifatnya yang terbuka, tidak mengenal takut atau malu-malu, membuat ia dikenal dan menjadi kesayangan banyak pihak, baik di kalangan guru maupun di antara teman-temannya.

Di kalangan gadis-gadis, Chairil juga disukai karena wajahnya yang tampan dan menyerupai orang indo.

Demikianlah, semua orang seolah memanjakannya. Keuangannya tidak
pernah kurang. Sepedanya termasuk golongan yang paling baik, di zaman
ketika mempunyai sepeda saja merupakan suatu kebanggaan. Dan ada sisi baik yang bisa dicatat dari gaya pergaulan Chairil, yaitu sikapnya tidak pernah sombong.

Meskipun dia angkuh dan selalu merasa hebat, dia selalu mudah sekali berkenalan dengan siapa saja, tanpa pernah membedakan status sosial, status ekonomi, dan intelektualitas.

Masa kanak-kanak hingga masa remaja Chairil dihabiskan di Medan.
Di HIS (setingkat SD) saja ia sudah menampakkan bakatnya sebagai siswa yang cerdas dan berbakat menulis. Lalu ia melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, setingkat SMP).

Ketika usia Chairil menginjak 19 tahun, dan duduk di kelas dua, ayahnya kimpoi lagi dan bercerai dengan ibunya. Karena mulai membenci ayahnya dan menginginkan kehidupan yang lain, ia memilih hijrah ke Batavia (Jakarta), dan meneruskan pendidikannya di sana.

Tak lama kemudian ibunya menyusul ke Jakarta. Perang Dunia II dan
masuknya Jepang telah membuat keadaan jadi tidak menentu. Chairil pun
terbelit masalah keuangan setelah tidak mendapat kiriman dari ayahnya.

Akhirnya ia putus sekolah. Saat putus sekolah itu Chairil mengisi hidupnya dengan menggelandang ke sana-ke mari, dan membaca buku sebanyak-banyaknya. Sebagai orang yang menguasai tiga bahasa (Inggris, Belanda, dan Jerman), ia tidak mendapat halangan apa pun untuk bisa membaca dan memahami semua karya sastra asing yang ia jumpai.

Penguasaan bahasa asing yang baik inilah yang banyak menolong Chairil
sehingga banyak buku yang belum dibaca seniman lain, ia sudah tahu isinya. Ia pun banyak menyadur dan menerjemahkan karya-karya sastra dunia itu ke bahasa Indonesia dengan baik.

Masih soal membaca, menurut Sjamsulridwan, ketika masih di MULO,
Chairil telah bergaul dengan anak-anak HBS (setingkat SMA) tanpa rendah diri.

"Semua buku mereka aku baca," kata Chairil suatu hari. Di sini yang dimaksud Chairil adalah buku-buku mengenai pelajaran abstrak, seperti sastra, sejarah, ekonomi, dan lain-lain. Dan ucapan itu semata-mata untuk menunjukkan bahwa ia tidak pernah kurang dari mereka (anak-anak HBS).

Selama di Jakarta, Chairil juga mengembangkan pengetahuannya dengan meminjam buku dari pamannya, Sutan Sjahrir. Menurut H.B. Jassin, kalu sudah membaca buku, maka buku itu akan dibacanya dari malam sampai menjelang pagi.

Meskipun menganut pola kehidupan yang bohemian, Chairil akhirnya
sempat juga berkeluarga. Ia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6
Agustus 1946. Sayangnya rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Akhir 1948 mereka bercerai, dan putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah.

Tanggal 28 April 1949, setelah sempat diopname selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang dideritanya, Chairil
mengembuskan nafas terakhir.

Ia meninggalkan warisan karya yang tidak begitu banyak, yaitu 70
puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4
prosa terjemahan. Kepada Evawani, putrinya yang masih berumur satu tahun, Chairil bahkan hanya mewariskan sebuah radio kecil, berbentuk kotak warna hitam, bermerek Philips. Dan seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisinya: "di karet, di karet sampai juga/deru angin", Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada hari berikutnya.






Read More......

Kendaraan Masa Depan Part 3

Lanjut lagi pembahasan tentang Teknologi Masa Depan yang sayang untuk di lewatkan .PART 1 dan PART 2 sudah, sekarang di lanjutkan dengan PART 3, Enjoy and Learn.


21.Cirbin V13R three-wheeled sports vehicle



Apa yang akan anda dapatkan jika anda mengambil Harley V-rod,tambahkan ban extra di bag depan,pasangkan sepasang kursi dengan balutan body fiberglass? maka anda akan mendapatkan Cirbin V13R sebuah kendaraan tricycle (roda tiga) yang telah tersedia dipasaran saat ini. Cirbin "meminjam" banyak teknologi dari mesin Harley V-Rod,dengan mnempatkan mesin 1,25 liter dengan balutan stainless steel dan instrumen electric di depan dan bagian belakangnya.


Dan karakteristik suara mesin harley yang mengaum buas jika anda mengunakan kendaraan dengan 5 percepatan ini,dan anada akan mendapatkan sebuah kendaraan roda tiga yang super kencang.
Cirbin akan dipasarkan dengan range harga berkisar antara $40.000 sampai $55.000.






22.Cube Urban Street Concept bike


Kebanyakan sepeda lipat untuk masyarakat perkotaan mengandalkan kepraktisan,namun tidak untuk sepeda konsep "CUBE" buatan pabrikan sepeda jerman ini.Kendaraan ini didesain oleh seorang mahasiswa Coburg University of Applied Sciences Gregor Dauth, yang mengatakan bahwa sepeda ini cukup kecil untuk dilipat dan disimpan di dalam sebuah city car pintar. Sepeda ini memiliki sebuah generator hub untuk lampu led terintegrasi yang otomatis menyala jika hari menjadi gelap.


23.Evolution vehicle equally at home on land, sea or air


kendaraan mini berpenumpang tunggal ini dapat terbang dengan kecepatan lebih dari 100 mph,namun kendaraan ini tidak memiliki sayap, kata sang penemu Alexander Begak seorang penerjun rusia terbang tanpa sayap bukan hanya satu2xnya kemampuan kendaraaan ini.kendaraan ini dapat berjalan di laut, darat dan udara yang ia sebut EVOLUTION, dan salah satu keunikan lainnya dari kendaraan ini bodi plastiknya hanya berbobot 130 pound saja.

Jika terlalu berbahaya terbang mengunakan kendaraan ini, ada parasut built in yang dapat mengurangi ketinggian kendaraan ini.bahkan ada alat sejenis pelampung yang dapat membantu jika keadaan yang sama terjadi dengan kendaraan ini di laut.Dan tentu saja kendaraan ini
dapat melaju di daratan dengan kecepatan 50 mph.



24.Italdesign Giugiaro Quaranta


Quaranta concept car ini memiliki mesin 3.3L V6 dengan 268 horse power.Atap nya memakai solar panel untuk menghasilkan energi bagi kendaraan ini.temapt duduk terdiri dari satu untuk pengemudi di depan dan dua untuk penumpang di belakang. Kendaraan ini dapat melesat
dari 0 ke 62 mph hanya dalam 4 detik saja.







25.jellyfish Futuristic submarine concept


Kapal selam futuristik ini tersinspirasi dari ubur2x.Dicioptakan oleh Taizo Doi,yang menginginkan kapal selam yang mirip dengan makhluk laut.Kapal selam ini memiliki platfor, 360 derajat sehingga memungkinkan para penumpangnnya untuk melihat seluruh permukaan laut.




26.Sidam Xnovo, hybrid or electric power


Sidam Xnovo beroda tiga ini lebih ke motor daripada mobil, memiliki versi kap terbuka.untuk start pertamanya akan menggunakan bahan bakar bensin namun mesin electric dan hybrid dengan motor terpisah terdapat di ban belakang nya.Cukup keren untuk sebuah tricycle.

Xnovo lebih ramping dari Toyota IQ techno-car.mengaburkan batasan antara scooter dan mobil. Xnovo akan dipasarkan dengan kisaran harga $12.306 per unit.







27.Silbervogel a Gravity propulsion car


Silbervogel Gravity Car,dirancang oleh Jakob Hirzel, sebuah kendaraan racing konsep yang dapat melaju meskipun tidak memiliki mesin berperforma tinggi.Silbervogel cover yang dapat dibuka- tutup tempat pengemudinya mengendarai dengan berbaring terlentang di dalam kabin selama mengemudi.
Di jalanan Gravity car akan melaju kencang berkat desain aerodinamisnya. Jacob hirzel adalah mahasiswa desain transportasi di Pforzheim University Of Applied Sciences di jerman dan desainnya masuk ke dalam Xtreme Gravity Series di rvine, California.




28.The LifeCar a unique vehicle


Lifecar adalah kendaraan berkadar emisi nol, namun tidak seperti kendaraan ramah lingkungan lainnya kendaraan ini memiliki "gaya" juga.Dengan tampilan depan mirip dengan desain rolls- royce dengan body seperti kendaraan masa depan, kendaraan ini tentu saja akan "berbeda" dibanding kendaraan lainnya di jalan raya.
Kendaraan ini berbahan bakar hidrogen dan memiliki range harga hinga ratusan ribu hingga jutaan dollar.Lifecar adalah kendaraan eksentrik masa depan.


29.Toyota Hi-Ct green-friendly mini-tank



Mobil Konsep Toyota Hi-CT membuat debut di Bangkok International Motor Show dengan tampilan mirip "tank".Meskipun bentuknya agak aneh namun kendaraan ini adalah kendaraan hybrid ramah lingkungan yang dapat di "charge" dengan socket asesori AC 100V.
Kendaraan ini juga memiliki fitur bagasi yang dapat di bongkar-pasang dan memiliki deck untuk sepeda dan papan surfing.



30.Unicat a dream RV


Kendaraan expedisi Unicat Amerigo International 4x4 hanyalah salah satu dari mobi caravan mewah dari Unicat.kendaraan ini dapat berjalan 2000 mil dengan bahan bakar fulltank.karena kendaraan ini berlabel RV (kendaraan rekreasi) maka anda dapat duduk relax di lounge di
belakang kendaraan anda, dengan tempat tidur ukuran queen size, dapur dan kamar mandi.dan jika anda tersesat, jangan khawatir karena kendaraan ini dilengkapi dengan GPS sistem yang dapat menjauhkan anda dari masalah seperti ini. Kendaraan ini dibanderol dengan harga
$600.000 per unit.
















Read More......

Komentar Terbaru

About Me

My Photo
Hery Herawan
-La Tahzan-
View my complete profile

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP